Aku Merry, seorang mahasiswi Yogyakarta rantauan dari pulau Sumatera. Aku lahir pada bulan Desember tepat pada tanggal 25. Hari itu identik dengan Merry Christmas, itulah kenapa namaku Merry. Sudah hampir tiga tahun ini aku tidak pulang ke kampung halaman, dan menghabiskan waktu liburan hanya untuk berelaksasi di kamar kos. Yang paling sedih adalah ketika hari ulang tahun dan hari Natal hanya bisa dirayakan sendirian dan hanya mendapat ucapan melalui telepon genggam.
Malam itu rasanya sangat sepi, aku hanya melihat pintu pintu kamar yang tertutup tanpa ada orang didalamnya. Untuk seseorang yang tidak pulang selama tiga tahun ini hal yang cukup biasa bagiku, apalagi ketika melihat teman-temanku yang mulai mengeluarkan koper dari kamarnya dan beranjak pergi. Sudah terlalu biasa rasanya melihat ruang kamar yang kosong dan tidak ada teman untuk bersendau gurau. Aku memang orang yang pasif dikampus. Kebanyakan orang menyebutnya kupu-kupu atau kuliah pulang. Keseharianku hanya bermain gadget dan sesekali pergi keluar untuk mencari makan. Sebenarnya aku punya teman, tapi memang aku adalah orang yang tertutup dan lebih memilih untuk mengerjakan semua hal sendiri.
Jujur, aku adalah orang yang pas-pasan, dan aku tidak memiliki cukup banyak uang untuk digunakan membeli tiket pulang kerumah. Bahkan, aku disini hanya mengandalkan beasiswa Tapi pada saat ini aku benar-benar ingin merasakan udara rumah. Sudah cukup rasanya dua kali tidak merasakan kebahagiaan Natal dan ulang tahun bersama keluarga. Namun aku sadar, aku tidak boleh egois dengan memikirkan kebahagiaanku saja. Aku mencoba menabung sendiri dengan uang beasiswa yang aku miliki. Kemudian aku memutuskan untuk membeli tiket pada sebuah agen travel.
Suatu hari aku terkejut melihat pesan dari temanku yang mengatakan bahwa agen travel yang aku pakai adalah agen travel penipu yang dimana aku sudah mentransfer seluruh biaya kepada mereka. Tangisku pecah saat mengetahui bahwa aku ditipu oleh mereka. Benar-benar merasa sedih dan kecewa. Harapanku terasa pupus dan hidupku seperti sudah hancur. Kebahagiaanku yang seharusnya datang esok hari sudah sirna diterbangkan oleh angin-angin. Aku benar-benar sudah tidak ada harapan.
Hari berlalu dengan begitu cepat, sepertinya tidak ada yang mempedulikanku. bahkan orang tuaku sepertinya tidak mengharapkan aku pulang kerumah. Aku berusaha menjalani hari-hariku dengan senyuman walaupun ada kesedihan didalamnya. Aku berusaha untuk berkata tidak apa-apa walaupun hatiku merasa ada apa-apa. Aku merasa benar-benar sendiri dan tidak ada seseorang yang peduli. Bahkan, aku merasa orang tuaku tidak menyayangiku. Aku benar-benar terpuruk. Aku merasa tidak ada lagi yang menyayangiku bahkan orang tuaku sendiri.
Tiba saatnya malam Natal tiba sekaligus malam ulang tahunku, aku hanya bisa berdoa bahwa Tuhan memberikan anugerah yang indah. Aku mulai putus asa dan kecewa dengan apa yang telah aku alami. Aku merasa menjadi orang paling menyedihkan didunia ini. Bahkan aku sempat ingin menyudahi semua ini. Tuhan, kenapa Kau memberikan ujian yang sulit ini bagiku, aku tidak kuat untuk menjalaninya" tangisku kala itu.
Aku membuka mata keesokan harinya mendengar bising yang ada didepan pintu kamar. Dengan terkejut dan haru yang menyelimuti hati aku melihat kedua orang tuaku datang dengan senyuman yang cukup membuatku berdiam sejenak menatap mereka. Aku langsung memeluk erat mereka dan meminta maaf karna sempat berfikir bahwa mereka tidak menyayangiku. Aku benar benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan anugerah yang indah di hari Natal dan hari ulang tahunku. Aku sadar ternyata orang tuaku sangat mempedulikanku bahkan apa yang aku pikirkan sebelumnya semuanya salah. Aku merasa sangat bahagia. Aku belajar bahwa apa yang kita harapkan belum tentu menjadi hal yang terbaik. Dan Tuhan mempunyai rencana yang indah dibalik semuanya yang kita alami.
No comments:
Post a Comment