Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?
Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa bagi Kabul, insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. Permainan" yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Akankah Kabul bertahan pada idealismenya? Akankah jembatan baru itu mampu memenuhi dambaan lama penduduk setempat?
Ialah kabul, seorang insinyur yang dulunya adalah mantan aktivis kampus. Kabul diamanahi sebagai kepala proyek untuk pembangunan jembatan di Sungai Cibawor. Pembangunan itu dimaksudkan agar dapat menyambungkan kedua desa kembali, sebab jembatan itu sudah lama hancur ketika jaman penjajahan dulu.
Kabul tak menyangka jika proyek itu kotor, tidak sebersih yang ia bayangkan. Banyak permainan-permainan yang terjadi di dalamnya. Dana proyek dipangkas untuk kepentingan Partai Golongan Lestari Menang. Anggota partainya bahkan secara langsung meminta kepadanya, termasuk pula Insinyur Dalkijo, kakak tingkatnya semasa kuliah dulu. Akibatnya kualitas bangunan menjadi taruhannya. Pair yang harusnya beli 3 truk, dipangkas menjadi 2 truk. Tiang yang roboh bukannya diperbaiki malah diganti dengan bahan yang bermutu rendah.
Tekanan demi tekanan yang dialami kabul semakin diperparah dengan carut marut perasaannya sendiri kepada Wati. Wati yang menjadi bawahannya ternyata menyukai dirinya. Wati yang sudah berpacaran dengan pacarnya bahkan tega memutuskan pacarnya demi Kabul.
Pada akhirnya kabul memilih hengkang dari pekerjaannya. Ia lebih memilih idealis dengan pendiriannya daripada harus berkompromi dengan keadaan.
Dalam novel ini merepresentasikan hal-hal yang memang terjadi di dunia nyata. Bagaimana suatu proyek memang dijadikan "proyek" bancaan bagi oknum-oknum tertentu. na proyek yang tak seberapa dibagi-bagikan ke banyak pihak. Maka dari itu tak heran jika mutu bangunan menjadi taruhannya. Banyak bangunan roboh akibat jeleknya kualitas bangunan.
Ahmad Tohari menuturkan kisahnya dengan sangat lugas dan mengalir. Kesederhanaan bahasanya membuat novel ini tak terlalu berat untuk dibaca para pembaca pemula.
Negeri ini dihuni oleh masyarakat korup, terutama di kalangan birokrat sipil maupun militer, juga orang awamnya.
yang tersamar namun bisa sangat parah akibat yang ditimbulkannya. Yakni korupsi melalui manipulasi gelar kesarjanaan" (hal.
Zaman sudah edan. Pilihan kita hanya dua. Ikut edan atau jadi korban keedanan" (hal.
Anak-anak muda itu adalah bagian generasi korban zaman. Zaman salah urus yang menyebabkan hak anak-anak itu untuk mendapat pendidikan yang cukup tak pernah terwujud. Zaman revitalisasi feodalisme yang melahirkan priyayi-priyayi kemaruk, kagetan, dan gumunan. hal.
Tegakkan kepalamu di hadapan mereka yang dibesarkan dengan makanan enak, serbamudah, dan mewah, tapi semuanya berbau neraka karena merupakan hasil korupsi dan hasil menipu rakyat. Percayalah, di hadapan kesejatianmu, mereka tak ada apa-apanya. hal.
Proyek' pun kini memiliki tekanan arti yang khas. Yakni semacam kegiatan resmi, tapi bisa direkayasa agar tercipta ruang untuk jalan pintas menjadi kaya. Maka apa saja bisa diproyekkan" (hal.
No comments:
Post a Comment