Demo gereja kembali terjadi. GPDI Karmel Taratara Tomohon didemo sekelompok orang. Tidak hanya di demo, gereja itu juga sempat dilempari batu.
Pernahkan ada masjid yang dilempari batu? Komentarnya adalah: "Biadab." Lha kalo sekarang gereja yang dilempari batu? Apakah komentarnya juga sama, atau lain?
Beberapa hari yang lalu kaum sumbu pendek demo agar pendirian Gereja Santa Clara di Bekasi dibatalkan. Demo pada akhirnya disertai dengan melempari batu kearah petugas kepolisian yang berjaga dilahan gereja.
Sepertinya demo itu bukan yang pertama, juga bukan yang terakhir. Entah sampai kapan kaum sumbu pendek akan mendemo pendirian gereja di negeri ini.
Adapun kejadiannya: Gembala gereja GPDI Karmel Taratara , Pdt. Royke Maukar hendak mengadakan KKR dalam rangka HUT satu tahun penggembalaan dan HUT ke-43 Ibu gembala Pdm. Mario Jeanette Lapian.
Sekelompok orang yang mengatasnamakan pemuda lintas agama datang dan menurunkan papan nama gereja dan menancapkan tulisan penolakan terhadap keberadaan gereja tersebut.
Aneh memang bagaimana pemuda lintas agama mendemo gereja, padahal mereka kan menghargai kebhinekaan di negeri ini. Benarkah mereka yang mendemo, atau ada sekelompok orang yang mencatut nama pemuda lintas agama?
Selama ini peran pemuda lintas agama adalah menjaga keberagaman agama kok malah mendemo dan melempari gereja dengan batu. Ini suatu kejanggalan yang perlu diusut. Kejadian ini sudah dilaporkan ke polres setempat. Masih untung cuma dilempari batu, pada bulan maret tahun 2013, Gereja HKBP di Bekasi malah di segel dan kemudian dibongkar dengan menggunakan excavator. Walaupun demikian semua jemaat maupun pengurus gereja menerima keputusan satpol PP dengan damai walau dipenuhi dengan jeritan dan derai air mata.Tidak peduli dengan tangisan jemaat yang selama ini beribadah di tempat tersebut, eksekusi pembongkaran gereja tetap dijalankan.
Coba kalo ada mushola atau masjid yang dirobohkan, hampir dipastikan akan terjadi pertumpahan darah. Jangankan melakukan, baru mau mengancam akan merobohkan saja, pasti udah digebukin massa dan langsung ditangkap polisi.
Di buku biografi Gus Dur, terdapat kisah beberapa pemuda Kristen yang melempari masjid dengan batu. Maka warga sekitar segera mencari beberapa pelaku. Setelah ditangkap, pelaku-pelaku tersebut diarak warga dan kemudian dipukuli sampai mati. Sekarang kalo gereja yang dilempari batu, tindakan apa yang dilakukan warga dan polisi?
Bukan hanya gereja saja, vihara dan kelenteng juga terdapat kisah yang hampir sama. Masih teringat akan kisah seorang perempuan di Tanjung Balai yang meminta pengeras suara di masjid dikecilkan. Hasilnya bukan pengeras suara yang berhasil dikecilkan, melainkan enam vihara dan satu kelenteng dibakar malam itu juga.
Mengapa kejadian ini tak kunjung berhenti dan potensi besar berulang kembali dimasa mendatang? Internet kini sudah mudah diakses masyarakat. Ternyata memang ada ayat Alquran dan Hadist yang digunakan untuk perang terhadap kaum kafir. Tapi kan keadaan di Indonesia tidak menyatakan kondisi perang?
Nyatanya yang membuat onar itu sebagian kecil kaum sumbu pendek, masih ada puluhan juta umat muslim yang baik, yang menghargai sesama manusia walaupun beda agama.
Itu sebabnya kini dibentuk organisasi-organisasi yang damai, yang mengabarkan tentang ketentraman. Tujuan dibentuknya organisasi seperti FKUB dan sejenisnya bertujuan agar antar agama dapat hidup berdampingan secara damai. Saling menghargai satu sama lain. Ini yang terus diusahakan oleh bangsa ini.
Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah keberadaan gereja dianggap membahayakan keberadaan umat muslim? Beberapa mengatakan tidak, beberapa lagi mengatakan ya. Mereka resah jika nanti ada anggota gereja mengajak warga ke gereja dan kemudian imannya berubah menjadi Kristen. "Mereka sedang mengajak umat muslim untuk murtad." Kata kaum sumbu pendek. Kadang ada umat Kristen yang pelihara hewan yang dapat membuat najis seperti anjing, dan memakan hewan haram seperti babi. Ini yang membuat resah warga.
Inilah ketakutan warga sumbu pendek terhadap gereja. Lebih baik tidak ada gereja yang didirikan daripada nanti ada warga yang dimurtadkan oleh mereka.
Sebenarnya alasan itu tidak dapat diterima, sebab umat Kristen tidak pernah memaksa seseorang untuk mengikuti ajaran agamanya. Mereka hanya memberitakan Injil yang artinya "Kabar Baik." Kalau tidak mau mengikuti juga tidak apa-apa. Di Alkitab dijelaskan untuk meninggalkan mereka yang menolak Injil. "Kebaskanlah debunya dari kakimu." Jadi tidak ada paksaan apapun. Mengenai pelihara anjing memang ada tapi kan di dalam rumah jadi tidak mengganggu warga. Mengenai makan babi, mereka makan sendiri dan tidak menawari kaum muslim. Banyak juga jemaat Kristen yang tidak pelihara anjing dan tidak memakan babi. Agamamu agamamu agamaku agamaku.
Jadi meskipun berbeda, tetap kebutuhan rohani seperti tempat ibadah itu perlu ada. Seperti halnya dikemukakan oleh salah satu jemaat HKBP: "Kami datang untuk beribadah, bukan untuk membuat kerusuhan."
Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu juga. Walaupun berbeda agama fungsi sebagai manusia perlu terus diwujudkan. Kerukunan antar umat beragama terus dilanjutkan. Damailah Indonesia.
No comments:
Post a Comment