Seorang pria berjenggot menegur seorang ibu yang memasuki Mesjid karena bayinya yang belum cukup berumur 2 tahun mengenakan sepatu. Anak bayi ini sangat sering digendong, dan kita bisa tahu bahwa sepatunya lebih bersih daripada orang-orang dewasa. "Lepaskan sepatunya, itu ngak suci!" kata pria berjenggot itu, di mesjid dalam area kantor Pajak di Jakarta.
Si Ibu tak banyak bicara langsung saja melepaskan sepatu anak bayinya dan memasukkannya ke dalam tas yang berisi berkas-berkas laporan pajak, jadi sepatu dan form isian berkas pajak bersama sepatu bayi dalam satu tas tentengan. Apakah berkas-berkas itu ngak suci juga karena telah bersama di dalam satu tas? mmhhnnn…
Namun, benarkah makna suci hanya sebatas lahiriah saja?, bukankah kalau kotoran sudah tersingkir karena dicuci namanya bersih?, apakah bersih ini sama dengan suci?, nah, lagi-lagi saya harus mengingat hal ini. Dan bagaimana banyak orang bisa memahami makna suci ini sebatas itu saja?, apakah karena sulitnya menjadi orang suci maka mereka pun sok suci dengan urusan materi?. mmhhnnn…
Dulu ada seorang koruptor bukan main wangi pakaiannya, maklumlah banyak duit untuk bisa beli parfum mahal yang wanginya mungkin tidak hilang-hilang sampai sebulan, bayangkan harganya tak tanggung-tanggung bisa mensubsidi 1-2 tahun rumah kontrakan yang sebulannya 1,5 juta rupiah. Belum lagi rumah koleksinya banyak dan rata-rata selalu dibersihkan, perabot mengkilap dan bahkan mobil yang digunakannya plus koleksi di garasi selalu mengkilap, lengket debu sedikit saja stressnya bukan main, langsung teriak atau minimal buru-buru ambil tisue, bahkan tisue yang digunakan pun bukan yang biasa kebanyakan dipakai, tapi tisue spesial yang juga mengeluarkan wangi. mmhhh... Apakah si Koruptor ini adalah orang suci? apakah ia suci karena materinya begitu wangi?
Lantas bagaimana dengan mesjid yang wangi, rapi, dan mahal biaya pembangunannya?, dan sering ada ceramah provokasi?, dan ujaran kebencian kepada golongan yang berbeda?, bahkan mencela keyakinan orang lain?, apakah dengan begini mesjid tidak tercemari oleh kotoran-kotoran jiwa?, apalagi musim PILKADA seperti ini mesjid banyak digunakan untuk kampanye, Lantas sebenarnya suci ini bagaimana?
Saya kira, dengan banyaknya kasus yang membingungkan ini saya hanya bisa berujar "Maha suci Tuhan, dan begitu dekil dan kotornya orang-orang yang sombong dan dangkal cara berpikirnya, dan begitu jijiknya dengan penghambaan pada materi serta simbol-simbol",
Bahkan kalau hanya meributkan soal peci, apakah peci ini meningkatkan maqam seseorang?, yang memakai peci langsung otomatis jadi orang beriman dan suci?, plus pakai baju koko? meski baju kokonya dari anggaran tilep e-ktp?. Ataukah bagaimana dengan mesjid yang dibangun trilyunan rupiah dengan hasil uang tilep?, kan katanya biar korupsi asal demi umat? What!?, inikah ajaran agama?, mesjid-mesjid dibangun dengan megah dan bersih, namun sayangnya kehidupan sosial masih amburadul, banyak yang shalat namun kerjaannya "Main Proposal", sungguh miris.
Pernah ada orang yang berkata begini ketika hendak pergi umroh. "Bapak-bapak dan ibu-ibu yang diberkati Allah SWT, ingat ya.. Jangan menilai semua orang-orang yang berada di Mekah dan Medinah itu adalah orang-orang baik dan suci, mentang-mentang berada di tanah haram atau tanah suci. Nabi boleh suci tapi belum tentu orang-orang yang ada di sana otomatis suci, kesucian itu karena perilaku yang baik, dan patokannya adalah Nabi dan para keluarga dan pengikutnya yang setia. Jadi kalau mau suci atau minimal bisa mendekati kesucian, maka contohlah Nabi dalam hal aklak, bukan mencontoh pakaian arabnya, apalagi memaksakan diri jadi orang arab, tapi jadilah orang Indonesia namun berusaha berakhlak seperti nabi, banyak hal yang bisa dipelajari dari nabi, bukan hanya main jenggot dan celana saja, tapi dalam segi karakter, sosial ekonomi yang dibangun beliau, dan juga bagaimana cara berpolitik beliau yang cantik dan keren, serta sikap toleransi yang diusungnya. Adakah bisa seperti itu?, Hal ini memang berat, namun kalau jemaah sekalian mengaku sebagai pencinta nabi tentu mau menerapkan ajaran-ajaran nabi kan?, Setuju….???"
Sontak banyak yang menjawab "Setujuuuuu….", namun ada beberapa jemaah sebenarnya bimbang, dalam hatinya bergumang "Gimana ya?, kan saya bisa umroh dan dulu haji karena dibayarin pakai duit nilep, jadi gimana ini?"
Saya optimis, esok akan ada dan banyak orang-orang yang tahu makna Islam ini yang sebenarnya dan menerapkan ke dalam berbagai kehidupan, mereka akan muncul para politikus yang melaju menuju kesucian, mereka adalah ekonom yang bergerak untuk mensucikan harta-harta kaum muslimin, dan mereka adalah pejuang yang mendambakan kesyahidan karena telah melawan para penjajah dimana pun berada termasuk zionis dan juga kaum yang memedekkan sumbunya dan juga ngotot dengan makna suci yang dipahaminya…
Begitulah, Maha Suci Engkau Ya Allah, ampunilah kami dan lepaskanlah kami dari sikap lebay dan sok suci.
No comments:
Post a Comment