Mengapa Orang Pintar Bisa Termakan Isu Hoax? November 19, 2017 at 12:43PM

Mengapa Orang Pintar Bisa Termakan Isu Hoax?

Jakarta, Punya IQ (ntelligence quotient) tinggi tidak menjamin bisa lepas dari pengaruh isu hoax. Hal ini dibuktikan oleh studi yang dilakukan oleh University of Illinois, Chicago, Amerika Serikat.

Tomas Stahl, peneliti psikologi sosial dari University of Illinois, melakukan survei kepada 300 partisipan. Para partisipan menjalankan tes IQ lalu diberi beberapa berita yang mengandung unsur hoax.

Hasilnya, ditemukan bahwa tingkat kecerdasan seseorang tidak menjamin ia bebas dari ancaman berita hoax. Menurut Stahl, kepercayaan dan latar belakang seseorang lebih memengaruhi keputusan soal menanggapi berita hoax daripada logika dan kemampuan menganalisis.

Jika Anda memutuskan sesuatu berdasarkan kepercayaan tanpa logika dan bukti-bukti, maka hasilnya sama saja antara orang dengan kemampuan intelegensia yang tinggi maupun rendah," tutur Stahl, dikutip dari EurekAlert!

Lebih lanjut, Stahl mengatakan tidak semua orang dengan kemampuan intelegensia yang tinggi mampu berpikir kritis. Mereka bisa saja skeptis terhadap suatu kabar atau fenomena, namun tidak mendasarinya dengan logika dan bukti-bukti.

Hal inilah yang membuat fenomena berita hoax dan paranormal masih menjadi bahan perbincangan yang menarik. Dikatakan Stahl, orang-orang dengan kemampuan berpikir kritis biasanya akan mencoba membuktikan sesuatu terlebih dahulu, sebelum mengambil sikap percaya atau tidak percaya.

Ada juga kalangan yang tidak mempercayai sesuatu tanpa mencoba menganalisisnya terlebih dahulu, dan menganggap apa yang diberitakan atau diperdebatkan ini tidak penting dan tidak relevan," tutupnya.

Jakarta, Mudahnya informasi untuk tersebar melalui berbagai aplikasi internet membuat orang-orang tidak bertanggung jawab mudah menyebarkan kehebohan. Dampaknya tidak sepele, kini banyak pasien psikiater ditemukan mengidap gangguan kejiwaan akibat informasi-informasi yang bersifat negatif.

Dr. Andri, SpKJ, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, belum lama ini menemukan kasus pasien waham yang diidap laki-laki usia 40-an. Pasien tersebut dibawa oleh keluarganya karena sering tampak kebingungan dan mulai berbicara kacau tentang situasi yang dibayangkan oleh pasien akan terjadi, berkaitan dengan demo-demo besar belakangan ini.

Suatu ketika dia mengatakan kepada keluarga tentang suatu teori penyelamatan negara di mana dia yang akan memimpin usaha penyelamatan tersebut. Dia meyakini hanya dia yang mampu melakukan hal tersebut dan sangat yakin akan usaha-usahanya," tulisnya dalam rilis yang diterima detikHealth, Senin (28/8/2017).

Latar belakang sebagai pedagang kelontong biasa membuat orang yang mendengar ceritanya menjadi khawatir pasien sudah mengalami masalah kejiwaan. Saat diperiksa, dr Andri menemukan bahwa pasien memang mengalami masalah delusi atau waham kebesaran.

Saat wawancara, pasien secara menggebu-gebu mengatakan bahwa dirinya yang bisa menyelamatkan negara dari kehancuran akibat perang saudara. Diagnosis mengarah ke suatu kondisi psikotik akut yang semoga tidak menjadi skizofrenia paranoid ke depannya, karena pasien baru mengalami hal tersebut kurang dari sebulan," lanjut dr Andri.

Dari kasus tersebut, dr Andri melihat bahwa sekarang ini banyak orang yang bisa sangat begitu terpengaruh oleh arus informasi yang sering membingungkan dan simpang siur tentang apa yang didapat dari media sosial.

Arus informasi yang dia dapat dari media sosial memperparah apa yang dia dapat sebelumnya dari berita di televisi. Simpang siur pendapat di media sosial ditambah berita tidak benar atau hoax yang dia baca membuat dia semakin kebingungan," jelasnya.

dr Andri mengingatkan agar orang-orang tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial atau aplikasi pesan. Selain itu, menghindari perdebatan pada postingan atau komentar yang bersifat negatif adalah cara bijak untuk menjaga kesehatan mental.

Jadi bagaimana tanggapan agan agan sekalian?

https://health. detik. com/read/2017/1.

S U M B E R


0 Response to "Mengapa Orang Pintar Bisa Termakan Isu Hoax? November 19, 2017 at 12:43PM"

Post a Comment